LOGO disnaker
Beranda > Artikel > Pentingnya Nutrisi Dimulai Dari Hari Pertama Kehamilan Hingga Usia 2 Tahun
Artikel

Pentingnya Nutrisi Dimulai Dari Hari Pertama Kehamilan Hingga Usia 2 Tahun

Posting oleh puskesmasgerunglobar - 8 April 2022 - Dilihat 1.124 kali

Kenapa bulir padi tidak berisi/hampaBulir padi hampa karena tidak berkembang sempurna. Untuk mendapatkan padi yang diinginkan, sesuai dengan hasil yang dinginkan maka tidak semata-mata hanya “sekedar menanam”.

Menanam tidak cukup sampai sampai disitu saja, melainkan meliputi keseluruhan aspek yang kompleks mulai dari penyemaian benih, pengairan, penanaman, perawatan dari rumput liar dan hama, dan itu terus diperhatikan dengan kasih sayang oleh petani layaknya perhatian ke seorang anak hingga padi tersebut tiba pada masa panen.

Menanam padi dengan perawatan atau tidak, tetap akan tumbuh dan menghasilkan bulir padi. Namun padi yang ditanam dan dirawat dengan perhatian yang penuh akan menghasilkan padi yang subur, berisi, berbobot, produksi berlimpah karena tumbuh dengan optimal serta terhindar dari hama. Begitu pula dengan kesehatan kita, tubuh harus mendapatkan hak-hak terjaga kesehatannya begitu pula dengan kesehatan ibu dan anak.  

***

Masa 1.000 hari pertama atau sekitar tiga tahun kehidupan sejak masih dalam kandungan merupakan masa penting pembangunan ketahanan gizi pada bayi. Lewat dari 1.000 hari, dampak buruk kekurangan gizi pada ibu hamil akan sulit diobati dan bisa memicu stunting.
Sebab itu, sangat penting untuk memastikan asupan makanan ibu hamil tercukupi, agar janin berkembang dengan baik. Artinya, Bunda sudah harus memperhatikan kecukupan gizi sejak awal kehamilan. 

Pastikan asupan makanan ibu hamil tercukupi agar janin berkembang dengan baik. Apabila asupan makanan ibu cukup dan tidak ada penyulit lain, umumnya janin akan tumbuh dan berkembang dengan baik. Kecukupan asupan makanan ini, nantinya dapat dilihat dengan pertambahan berat janin yang sesuai dengan usia kehamilan.

Usahakan agar ibu hamil cukup mengonsumsi makronutrien seperti, karbohidrat, protein, dan lemak. Dalam hal ini, utamakan agar ibu hamil mendapat protein hewani. Diimbangi juga dengan mengomsumsi mikronutrien, yaitu vitamin dan mineral yang terdapat dalam buah dan sayuran (fk.ui.ac.id).

Stunting adalah masalah kurang gizi kronis yang disebabkan oleh kurangnya asupan gizi dalam waktu yang cukup lama, sehingga mengakibatkan gangguan pertumbuhan pada anak yakni tinggi badan anak lebih rendah atau pendek (kerdil) dari standar usianya.

Kondisi tubuh anak yang pendek seringkali dikatakan sebagai faktor keturunan (genetik) dari kedua orang tuanya, sehingga banyak masyarakat yang hanya menerima tanpa berbuat apa-apa untuk mencegahnya. Padahal seperti kita ketahui, genetika merupakan faktor determinan atau faktor kesehatan yang paling kecil pengaruhnya bila dibandingkan dengan faktor perilaku, lingkungan (sosial, ekonomi, budaya, politik), dan pelayanan kesehatan. Dengan kata lain, stunting merupakan masalah yang sebenarnya bisa dicegah (p2ptm.kemkes.go.id).

Menurut penjelasan Dr. dr. Tinuk A. Meilany, Sp.A(K) dalam siaran live dengan radio kesehatan, Kamis (27/1/2022) “Di Indonesia, umumnya anak-anak makan 3 kali sehari, sedangkan pada anak diatas usia 5 tahun terkadang minum susu 1 sampai 2 kali sehari dan ditambah snack time. Apabila semua jadwal dilaksanakan pada tempatnya masing-masing akan aman, namun apabila anak-anak selalu makan snack, akibatnya nutrisi yang diperoleh tidak lengkap karena kebanyakan berisi karbohidrat dan menjadi kurang vitamin. Hal tersebut yang menyebabkan masalah gizi atau akibatnya nanti anak-anak menderita kekurangan gizi mikro, misalnya kekurangan zat besi atau kekurangan protein. Namun apabila terlalu berlebihan snack berat, bisa menyebabkan obesitas pada anak”.

Permasalahan gizi yang disebabkan oleh asupan gizi yang kurang dalam waktu yang cukup lama tentunya juga bisa mengakibatkan pemberian makanan yang tidak sesuai dengan kebutuhan gizi.

Gizi buruk merupakan penyakit gizi dimana menduduki kekurangan gizi yang paling rendah, sedangkan stunting merupakan akibat jangka panjang status gizi yang tidak diperbaiki  yang mengakibatkan anak tersebut menjadi pendek. Pada anak-anak yang mengalami kekurangan gizi akan ada berbagai tanda-tanda yang muncul, antara lain nafsu makan rendah, kehilangan lemak, kulit dan rambut kering bahkan rambut mudah sekali rontok, kulit wajahnya tirus dan terlihat sedih (tidak seperti anak-anak ceria pada umumnya) serta rentan penurunan imunitas tubuh. Jangka panjang apabila tidak diperbaiki akibatnya anak mengalami gagal tumbuh (perawakan menjadi pendek dibandingkan seusianya) dan lama-kelamaan menjadi sering mengalami sakit dan tumbuh kembangnya juga terganggu. Selain itu, anak bahkan bisa mengalami kesulitan belajar ketika kebutuhan gizinya tidak terpenuhi. Ada perbedaan yang khas yang sama-sama kita cermati agar anak-anak terhindar dari potensi gizi kurang atau gizi buruk atau mungkin stunting “papar dr. Tinuk”.

Faktor genetik memang mempengaruhi tinggi badan seseorang, namun anak juga mempunyai sisi potensi untuk tinggi genetik. Selain itu, ada faktor lain yang sangat kuat mempengaruhi yaitu nutrisi, hormon, lingkungan dan aktivitas fisik. Ini penting agar kita tetap berusaha untuk memperbaiki asupan nutrisi anak-anak kita (www.rsabhk.co.id).

Ada tiga hal yang harus diperhatikan bila anak stunting, yaitu perbaikan terhadap pola makan, pola asuh, serta perbaikan sanitasi dan akses air bersih.

1. POLA MAKAN

Anak susah makan atau bahkan menolak untuk makan pada umumnya normal terjadi pada anak-anak dan disebabkan oleh berbagai factor, salah satu diantarnya seperti tidak mood mengunyah makanan atau memfavoritkan makanan tertentu.

Melansir Healthline, ketertarikan anak terhadap dunia sekitar juga dapat berdampak pada berkurangnya nafsu makan. Bahkan, pertumbuhan yang sangat cepat di tahun pertama anak membuat penambahan berat badan lebih lambat dan membuatnya cenderung makan dalam porsi lebih kecil (health.detik.com).

Siapa yang tidak pernah makan snack atau makanan ringan dalam kemasan? Tak dapat disangkal bahwa makanan dalam kemasan ini sudah menjadi bagian dari kehidupan banyak orang terutama anak-anak. Anak lebih menyukai snack daripada makanan di rumah. makanan ringan dalam kemasan termasuk golongan yang juga disebut ultra-processed food atau highly processed food.

Dikutip dari Harvard School of Public Health, golongan makanan ini telah melewati serangkaian proses dengan penambahan garam, gula, dan lemak, serta zat aditif atau bahan tambahan pangan.

Tahapan produksi ini membuat kandungan nutrisi dalam makanan berkurang. Produsen biasanya akan menambahkan serat, vitamin, dan mineral sintetis dalam proses yang disebut fortifikasi.

Namun, jenis makanan ini tetap saja tidak mampu menggantikan kebaikan zat gizi alami dari makanan segar atau olahan pangan di rumah.

Makanan ringan umumnya memiliki cita rasa yang lezat. Jenis makanan ini juga dirancang secara khusus dalam kemasan kecil agar konsumen tertarik membeli lebih banyak.

Kebiasaan ini pulalah yang membuat anak-anak akan makan secara berlebihan. Akibatnya, bahaya konsumsi makanan ringan “berlebihan dan tidak terkontrol” yang tidak dimbangi dengan gaya hidup sehat atau makan gizi seimbang dapat menimbulkan efek panjang terutama dengan pola makan dan gizi anak.

Kandungan dalam makanan kemasan dapat membuat anak-anak makan lebih banyak dari yang tubuh butuhkan. Setidaknya, konsumsi makanan ini menyumbang sekitar 57,9% asupan kalori harian, di mana 89,7% di antaranya berasal dari gula tambahan.

Berbagai bahan tambahan pangan sering ditambahkan ke dalam makanan kemasan, seperti pengawet, pewarna, pemberi tekstur, penguat rasa, hingga pemanis buatan.

Kebanyakan snack merupakan makanan tinggi kalori yang miskin kandungan gizi. Kandungan protein dan seratnya amat rendah sehingga tidak mengenyangkan. Akibatnya, anak mengonsumsi camilan kemasan terus-menerus.

Kebiasaan makan snack bisa memengaruhi pola makan anak secara tidak langsung. Jika anak terlalu sering mengonsumsi snack yang minim kandungan gizi, anak hanya akan mendapatkan asupan kalori tanpa zat gizi yang bermanfaat.

tentunya faktor pola makan tidak terlepas dari peranan kontrol orang tua kepada anak.

Kebiasaan makan snack bisa saja membuat anak enggan mengonsumsi makanan pokok, sumber protein, atau sayuran yang kaya vitamin.

Lama-kelamaan, kebiasaan ini bisa membuat anak rentan kekurangan satu atau beberapa jenis zat gizi. Yang mana zat gizi tersebut tidak bisa diproduksi oleh tubuh sendiri melainkan asupan tersebut didapat dari gizi seimbang atau menu 4 bintang dari sumber makanan luar.

Menu 4 bintang terdiri dari unsur :

a) BINTANG I yaitu KARBOHDRAT (nasi, kentang, ubi/singkong, jagung, gandum)

b) BINTANG II yaitu PROTEIN HEWANI DAN PROTEIN NABATI

1) Sumber protein hewani.

Protein hewani merupakan asupan nutrisi protein yang berasal dari hewan atau produk olahannya.

  • Daging Merah (Sapi)
  • Daging Ayam
  • Daging Ikan tawar/air laut
  • Telur
  • Susu dan produk turunan/olahan susu (susu fermentasi, yogurt, keju, mentega, whey, kasein, krim, creamer kental  manis (hellosehat.com).

2) Sumber protein nabati terdapat dari :

  • Tempe dan Tahu merupakan makanan yang mengandung protein tinggi
  • Kedelai (kedelai putih, kedelai hitam, edamame, dan kedelai kuning)
  • Kacang-kacangan (kacang mete, kacang kedelai, kacang tanah, kacang polong, kacang hijau, kacang merah, kacang tolo/tunggak, kacang kenari/almond, kacang koro)
  • Brokoli, bukan hanya sumber nabati yang kaya akan serat, namun juga mengandung protein tinggi
  • Bayam, meski tidak mengandung protein sebanyak kacang-kacangan atau biji-bijian, sayuran berdaun hijau gelap seperti bayam juga bisa jadi pilihan (www.idntimes.com).

3)  Lemak

4) Sayur dan Buah

Dan nutrisi pelengkap lainnya seperti Asupan Mikronutrien yang dibutuhkan bayi meliputi mineral seperti zinc, zat besi, kalsium, asam folat. Lalu, perhatikan pula asupan vitamin A, C, D, E, B6, dan B12 (hellosehat.com).

Stunting dipengaruhi oleh rendahnya akses terhadap makanan dari segi jumlah dan kualitas gizi, serta seringkali tidak beragam.

Dengan gizi seimbang perlu dibiasakan dalam pola asuh sehari-hari. Anak-anak dalam masa pertumbuhan, memperbanyak sumber protein sangat dianjurkan, di samping tetap membiasakan mengonsumsi buah dan sayur.

Dalam satu porsi makan, setengah piring diisi oleh sayur dan buah, setengahnya lagi diisi dengan sumber protein nabati dan hewani.

2. POLA ASUH

Selain dipengaruhi oleh aspek asupan pola makan, aspek perilaku, terutama pada pola asuh yang kurang tepat dalam praktek pemberian makan bagi bayi dan Balita.

Dimulai dari kesehatan reproduksi dan gizi bagi remaja yang natinya sebagai cikal bakal keluarga atau calon ibu, hingga para calon ibu memahami pentingnya memenuhi kebutuhan gizi saat hamil dan stimulasi bagi janin, serta memeriksakan kandungan empat kali selama kehamilan.

Bersalin di fasilitas kesehatan, lakukan inisiasi menyusu dini (IMD) dan berupayalah agar bayi mendapat colostrum (cairan yang pertama kali keluar ketika baru melahirkan) dan air susu ibu (ASI). Berikan hanya ASI saja sampai bayi berusia 6 bulan.

Setelah itu, ASI boleh dilanjutkan sampai usia 2 tahun, namun berikan juga makanan pendamping ASI. Jangan lupa pantau tumbuh kembangnya dengan membawa buah hati ke Posyandu setiap bulan.

Hal lain yang juga perlu diperhatikan adalah berikanlah hak anak mendapatkan imunisasi yang telah dijamin ketersediaan dan keamanannya oleh pemerintah. Masyarakat bisa memanfaatkannya dengan tanpa biaya di Posyandu atau Puskesmas.

3. SANITASI DAN AKSES AIR BERSIH

Rendahnya akses sanitasi dan air bersih, mendekatkan anak pada risiko ancaman penyakit infeksi. Untuk itu, perlu membiasakan cuci tangan pakai sabun dan air mengalir, serta tidak buang air besar sembarangan.

“Pola asuh dan status gizi sangat dipengaruhi oleh pemahaman orang tua (seorang ibu) maka, dalam mengatur kesehatan dan gizi di keluarganya (p2ptm.kemkes.go.id).

Mengapa perlu memperhatikan 1000 hari pertama kehidupan anak?

Pemerintah  Indonesia  meluncurkan “Gerakan  1.000  Hari  Pertama  Kehidupan”  yang dikenal sebagai 1.000 HPK. Masa 1000 hari pertama kehidupan (HPK),yang bermula sejak saat konsepsi hingga  anak  berusia  dua  tahun,  merupakan  masa paling  kritis  untuk  memperbaiki  perkembangan fisik  dan  kognitif  anak. 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) dikenal dengan istilah "Periode Emas" dimana selama 1000 HPK untuk memperbaiki tumbuh kembang anak secara optimal. 1000 HPK bermula 270 masa kehamilan sejak hari pertama konsepsi lalu terbentuk embrio hingga 730 hari  di usia 2 tahun awal anak. Gangguan yang terjadi selama periode ini akan berdampak pada kelangsungan hidup tumbuh kembang anak yang bersifat permanen. Gangguan ini akan sulit untuk diperbaiki jika usia anak setelah 2 tahun.

Status gizi ibu hamil dan menyusui, status kesehatan dan asupan gizi yang baik selama masa kehamilan hingga tahun pertama kehidupan anak berperan dalam membentuk fungsi otak hingga membantu memperkuat sistem imun. Pemenuhan gizi yang cukup pada anak akan berpengaruh terhadap kualitas kesehatan, intelekual, psikologi, pertumbuhan fisik dan produktivitas di masa yang akan datang (USAID,2014).

Cara mengoptimalkan tumbuh kembang 1000 HPK

Adapun tiga hal yang perlu dipenuhi sebagai upaya mengoptimalkan tumbuh kembang anak dalam 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), adalah Pertama,  pemenuhan Nutrisi. Kedua. pemenuhan Asi Ekslusif, dan Ketiga, sanitasi Lingkungan yang sehat.

Pemenuhan Nutrisi

Asupan nutrisi selama hamil mempengaruhi fungsi organ tubuh anak. Kebutuhan gizi ibu selama kehamilan yakni karbohidrat, protein, lemak, asam folat, kalsium, zat besi, vitamin D dan Yodium.

Makanan pendamping ASI (MP-ASI) setelah anak berusia 6 bulan hingga 2 tahun. Zat gizi yang terkandung dalam MP-ASI adalah karbohidrat, lemak, protein, vitamin, dan mineral. Kebutuhan protein dan zat gizi mikro seperti vitamin dan mineral diperlukan dalam jumlah tinggi karena pada masa ini sampai anak berusia 2 tahun merupakan masa pertumbuhan dengan laju metabolisme tinggi. Kandungan lemak pada makanan pendamping ASI anak diperlukan ssebagai asam lemak esensial, memfasilitasi penyerapan vitamin larut lemak. Kebutuhan lemak bagi anak dalam makanan pendamping ASI sekitar 30-45% kebutuhan energi.

Pemenuhan Asi Ekslusif

WHO merekomendasikan pemberian ASI Eksklusif selama 6 bulan pertama dan pemberian ASI diteruskan hingga anak berusia 2 tahun untuk meningkatkan daya tahan tubuh anak. Riset Katulla, dkk (2014) dalam penelitian The first 1000 days of life mengemukakan pemberian ASI Eksklusif menurunkan risiko infeksi saluran cerna, alergi, infeksi usus besar dan usus halus, penyakit celiac, leukemia, limfoma, obesitas, dan DM pada masa yang akan datang. Pemberian ASI Eksklusif hingga 2 tahun juga dapat mempercepat pengembalian status gizi ibu, menurunkan risiko obesitas, hipertensi, kanker payudara ibu.

Sanitasi Lingkungan Yang Sehat

Sanitasi lingkungan ikut mempengaruhi tumbuh kembang anak. Biasakan untuk selalu mencuci peralatan botol susu, makan, masak serta mainan dengan pembersih yang food grade. Mencuci tangan dengan sabun  dan air bersih yang mengalir. Kemudian, pakaian sebaiknya dicuci dengan pembersih yang lembut. Sanitasi lingkungan yang tidak baik akan mengakibatkan kejadian diare yang nantinya akan menyebabkan infeksi sehingga berpengaruh dan anak akan mengalami kurang gizi (pps.unj.ac.id)